If you ever find yourself stuck in the middle of the sea
I'll sail the world to find you
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see
I'll be the light to guide you
Find out what we're made of when we are called to help our friends in need
You can count on me like 1, 2, 3
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4, 3, 2
And you'll be there'cause that's what friends are supposed to do
If you're tossin' and you're turn in and you just can't fall asleep
I'll sing a song beside you and if you ever forget how much you really mean to me
Every day I will remind you
Find out what we're made of
When we are called to help our friends in need
You'll always have my shoulder when you cry
I'll never let go
Never say goodbye
'cause that's what friends are supposed to do oh
You can count on me 'cause I can count on you
You can count on me 'cause I can count on you
Read User's Comments(0)
Notes at the end of the year
Tuesday, December 31, 2013 |
Labels:
| Story |
Tak ada maksud lain dalam mengurai tulisan
ini hanya sekadar coretan kilasan kisah, coretan motivasi, dan coretan gapaian
baru. Detik ini, kurang lebih 336 hari terlewati sudah. Tersadar, belum ada
capaian yang “amazing” teraih hingga di penghujung tahun ini.
Karena ternyata kegagalan masih akrab menyapa- ya, gagal. Banyak hal yang telah
terlalui, sungguh. Pengalaman yang selalu senantiasa menjadi terapi batin yang
selalu berujung dengan pahit. Ku tak lebih baik dari yang telah lalu! namun akan
sangat menyakitkan jika hasrat untuk berubahpun tak ada. Memang, Keinginan
selalu ada, selalu ada. Namun, tak ada hasil.
Terima kasih yang tak pernah usai untuk
Allah-ku yang masih memberi kesempatan bersua dengan kehidupan yang kadang
ambigu, kehidupan yang banyak orang menganggapnya keras. Isyaratnya lewat
jantung yang selalu berdebar datar, namun kadang bernada berima karena sesuatu hal. Ku
bersyukur masih bisa terperanjak dari mati semu, menikmati embun subuh yang
menitikan sejuk di ruang-ruang buram, serta berjumpa dengan mentari dan hujan
yang silih berganti. Terima kasih juga untuk orang-orang yang telah berbagi
sepenggal kisah, kisah yang baik atau buruk, kisah yang singkat atau lama, atau
kisah yang terkenang dan tak mungkin kan kembali. Namun, Ada satu yang belum tampak, kisah yang tenang dalam
penantian, dan tentu masih menjadi rahasia yang mungkin kan abadi sampai
saatnya tiba....
Hello
to my self!! Still ok?
“Promise
that you will be better than the past. Reach your future! Sure that your Allah
always beside of you, even wherever you are.. Make it peace with love and
happiness”. Aameen~
Gencarkan diri untuk lebih dekat
dengan-Nya, berbuat baik ke sesama, lebih semangat, lebih giat, lebih sabar, lebih
berbahagia, dan blaa blaa blaaa.. yang penting semua yang baik-baiklah.
Intinya, harus lebih baik... Ku kan temui diri yang lebih baik dan minim
penyesalan,, inshaAllah.
-Hachiko Monogatari-
Monday, December 30, 2013 |
Labels:
| Japan |
Ini nih the best story dari negeri kawakan jepang yang sampai saat ini masih jadi cerita no.1 yang tak pernah bosan tuk d review.. check it out :)
Cerita tentang Hachiko adalah sebuah kisah
nyata dari jepang yang terjadi pada tahun 1924. Hachiko, anjing ras Akita,
oleh tuannya Ueno Hidesa-buro dibawa pindah ke Tokyo. Ueno adalah profesor
jurusan ilmu pertanian di Universitas Tokyo. Setiap pagi Hachiko selalu berada
di depan pintu rumah mengantar keberangkatan Ueno ke kantor, dan senja harinya
ia berlari ke Stasiun KA Shibuya menyambut kedatangan tuannya dari
kantor. Kebahagiaan dan kebersamaan mereka terus berlangsung hingga 1925.
Pada suatu malam, Ueno ternyata tidak
pulang seperti biasanya, ia mendadak terserangstroke di universitas dan
tidak tertolong lagi. Sejak itu ia tak pernah kembali ke stasiun kereta api di
mana temannya si Hachiko tetap setia menunggu. Sepeninggal Ueno Hidesaburo,
Hachiko dipelihara oleh Kobayashi Kikusaburo, namun Hachiko seringkali
melarikan diri dari rumah Kobayashi dan secara rutin kembali ke tempat
tinggalnya yang lama. Hachiko tidak mengetahui kalau tuannya telah meninggal.
Setelah berkali-kali kecewa, ia mulai menyadari tuannya sudah tak tinggal di
rumah lama itu lagi. Maka ia berlari ke Stasiun Shibuya, karena teringat dahulu
selalu menjemput tuannya pulang dari kantor di tempat itu. Setiap hari, ia
berdiam menanti kedatangan Ueno Hidesaburo, akan tetapi setiap hari ia selalu
pulang dengan kecewa, tak menemukan tuannya diantara kerumunan penumpang.
Hal itu berlangsung selama 10 tahun.
Hachiko selalu muncul tepat waktu di stasiun setiap senja dan menanti KA
merapat di peron. Suatu ketika, seorang murid Ueno Hidesaburo menemukan Hachiko
di stasiun itu dan mengikutinya kembali ke rumah Kobayashi. Dari cerita
Kobayashi ia mengetahui kisah Hachiko. Tak lama kemudian, murid itu
mempublikasikan artikel tentang anjing ras dari Kabupaten Akita dan di dalam
laporan itu tercakup kisah tentang Hachiko. Pada 1932, artikel tersebut dimuat
di sebuah surat kabar terbesar di Tokyo, maka seketika Hachiko mencuri
perhatian seluruh masyarakat Jepang. Kesetiaan terhadap tuannya telah
mengharukan rakyat Jepang. Para guru dan wali murid menjadikan Hachiko sebagai
contoh kesetiaan terhadap keluarga dalam mendidik anak, ia telah mengajarkan
kepada masyarakat mengenai cinta dan kesetiaan tulus yang pantang menyerah.
Mereka menyebutnya “Anjing setia”.
Pada April 1934, warga setempat mendirikan
patung tembaga Hachiko di depan Stasiun Shibuya. Hachiko sendiri juga menghadiri
acara pembukaan patung tersebut. Di kemudian hari, pintu masuk stasiun yang ada
di dekat patung tembaga tersebut dinamakan “Pintu masuk Hachiko”. Hingga
akhirnya, pada tanggal 8 Maret 1935 tubuh Hachiko ditemukan membujur kaku di
pinggir jalan statsiun Shibuya. Ya, ia sudah tua. Hingga kini, di depan stasiun
Shibuya terdapat sebuah patung Hachiko yang terbuat dari perunggu.
Selamat Tinggal Rasa
Friday, November 22, 2013 |
Labels:
| Feeling |
Kuingat dulu, dilembaran
buku agendaku terdapat suatu tulisan istimewa
Ya, tulisan yang berjudul
Sang Jawara Sinar itu adalah tulisan
istimewa tentangmu
Hanya beberapa
bait namun mengisyaratkan sejuta rasa dan mimpi
Itu adalah saat
pertama kumenulis untuk seseorang
Biar kuberi tahu, mungkin
dulu agak sedikit bodoh atau autis
Rasa itu tak
pernah sama sekali tertunjukkan padamu
Hanya dengan diam
atau ketidakpedulian yang ada
Sehingga, ???
Kini, di saat rasa
itu mulai tertampakkan
Ternyata, rasa
yang sedari dulu hadir
Harus di redam kuat-kuat,
kubur menjadi fosil
Dan tentu saja
jangan pernah biarkan hadir kembali
Ini yang kusebut
sebagai rasa vektor positif,
Yang masing-masing
pangkal tak kunjung bertemu
Pangkal vektor itu
kutafsirkan sebagai rasa
Rasa yang tak kunjung
bertemu karena waktu hadirnya yang tak bersamaan
Jubah
rasaku harus pergi
Ku
sihir dan kulenyapkan menjad abu
This is time to return my true self
Say good bye for love, bye!
Episode 2 Brassica rapa^^
Monday, November 11, 2013 |
Labels:
| Story |
Kembali dibuat terharu oleh mereka. Ya,
mereka adik-adikkku yang sudah kulantik menjadi penghuni baru dan permanen di
hatiku,,, co cuuiittt...hahah
Kali ini berhubungan dengan moment 2
november. Meskipun sudah beberapa hari telah berlalu, mereka tetap saja
memberikan something special. Walaupun sebenarnya ucapan do’a sudah cukup.
Cerita ini diawali tepat tanggal 2 November
yaitu di Malino, tempat Mubes berlangsung. Malam itu mereka menelfon... seperti
biasa, mereka sharing tentang apa yang sedang mereka kerjakan. Dan pada malam
itu mereka mengaku sedang mengerjakan tugas seni budaya... belakangan ku
ketahui ternyata bukan tugas seni budaya yang mereka kerjakan. Namun, sesuatu
yang lain.
Berlanjut ke hari senin tanggal 4 November,
mereka datang ke Rumah Nalar membawa birthday cake, kelihatan cantik dan tentu
saja enak. Dibawanya pula suatu bingkisan besar
yang ternyata bingkisan itu adalah kado. Ternyata bingkisan itu adalah
apa yang mereka kerjakan saat menelfon, yang sebelumnya mengaku mengerjakan
tugas seni budaya. Cepcepcep.. Sedikit kaget, senang, dan bingung saat membuka
dan melihat bingkisan itu. Bagaimana tidak, bingkisan itu ternyata berisi
bingkai besar yang terpampang foto-foto yang sdikit kacau... kukatakan kacau
karna yang terpampang adalah foto-foto jaman dulu, alay dan labill. Dalam
bingkai itu tertempel foto-fotoku tentunya, foto-foto mereka, si N dan si R,
dan foto si kakak. Bingung juga sih, kenapa ada dia muncul, hahahha.
Kini, bingkai foto itu terpajang rapi di
kamarku, terpajang tepat didinding depan meja belajarku. Jadi, setiap belajar
selalu ingat mereka. Walau hanya dengan lirikan, selalu kuberi senyum pada
bingkai foto itu. Namun kadang sedikit mengalihkan perhatian dan mengganggu konsentrasiku
dalam belajar... hahahah
Intinya, terima kasih sebanyak-banyaknya untuk
Allah-ku... yang masih memberikan desah nafas dan degupan jantung sampai saat
ini, untuk keluargaku yang selalu menyempatkan menelfon mengucapkan kata
selamat ulang tahun namun ujung-ujungnya mengucap seribu kata wejangan panjang
kali lebar -_-, tapi tak apalah, kujadikan itu sebagai spirit dalam menghadapi
semuanya. (kadonya masih kutunggu, hahaha), untuk teman-temanku tanpa
terkecuali yang memberikan sepatah kata do’a,
terima kasih. Semoga Allah mendengar do’a kalian, (termasuk do’a yang ke
jepang), hahahha. Aamiin. Untuk seseorang yang pertama mengucapkan kata selamat
lewat FB, SMS, atau Twitter, terima kasih, ^_^. Dan yang terakhir buat mereka
yang special... ya, Adik-adikku. Terima kasih buanyak, terima kasih atas telah
bertemunya kita, kalian yang membuatku menulis, memberi warna lain di satu sisi
hidupku. Gomawo, doomo arigatou.
Entah dengan alasan apapun itu, semoga kita
masih bertemu... tak sabar menunggu moment special kalian tahun depan... Insya
Allah di moment itu kita masih dalam lingkup yang sama, lingkup yang sama
karena ikatan batin yang kuat.
Salam Brassica
rapa lagi ^_^
-Coretan Kenangan-
Sunday, October 27, 2013 |
Labels:
| Story |
Kutulis ini ketika langkahku tak bisa
menggapai mereka.
Suatu kebahagiaan tersendiri mengenal
mereka.. Adik-adik yang belum lama ini
kukenal karna Allah, dan kakak yang baik hatinya^^. Cukup singkat, namun
sungguh sangat berkesan. Masih teringat waktu pertama berjumpa dengan mereka,
dengan ekspresi yang agak sulit ditafsirkan. Hahaha., apalagi saat pengerjaan proyek
besar (kataku), yang diwarnai dengan berbagai kelakuan asam manis, membuat memori di hipotalamusku
bertambah.
Disela-sela waktu pengerjaan “proyek” itu,
terekam segala hal yang melukiskan sikap mereka yang sdikit kocak, aneh, tapii
cukup untuk meregangkan otot dan maxila-mandibulaku. Banyak kesamaan yang
terjadi, mulai dari si N yang suka bahasa jepang, dan si R yang suka main si
alat musik klasik, biola. Mereka juga suka dengan oppa-oppa korea yang kece,
trutama si min hoo personil boyband shinee. Bahkan, duet maut mereka
menyanyikan lagu han ji en full house,
dan dance-dance mereka yang kurekam lewat video hpku, sering menjadi penghibur
manis, hihihii.
Usaha dan do’a memang selalu menjadi
jawaban dari harapan. Harapan yang tak Cuma datang dari mereka, tapi dari
orang-orang yang mendukungnya. Bangga dengan hasil yang mereka peroleh,
waaalaaupun ku tak sempat menghadiri moment krusial mereka. Namun, disini,
kubisa merasakan atmosfer yang sama.
Betul kata mereka, “jangan benci
perpisahan.. karna itu berarti kita membenci pertemuan”. Namun, perpisahan
selalu menjadi antigen kataku, sungguh benci!
Request untuk allah, “Semoga, suara-suara
mereka masih akan terdengar.. dance gilanya masih bisa kuliat, karna radar
batin yang kuat diantara kami” hahah. Salam Brassica
rapa ^_^
-Senja d Sore Hari-
Sunday, October 27, 2013 |
Labels:
| Poetry |
Akan kau lihat sendiri langit jingga yang terpantul pada riak air sungai-sungai sepanjnag gang berliku di venesia. Gondola dengan pengemudi yang menyanyikan lagu menjadi pengantar dalam menyusuri kota air. Juga akan singgah di jembatan Rialto, juga berhenti di piazza San Marco, menabur jagung untuk merpati liar yang berterbangan.
Atau senja di pantai Cote d’azzur di Nice,
Prancis.
Pantai yang landai itu pasti akan
memperlihatkan dengan jelas langit jingga yang luas tak berbatas. Pantai itu
begitu bersih, tak akan terhalang oleh apapun tatap matamu kala menikmati
semburat jingga langitnya.
Atau kau mau menyimpan batas senja di reruntuhan
Maccuphicu? Bias langit disana memancarkan sesuatu yang magis, seakan
menerawangkan kita pada sebuah masa silam, menelusuri lorong-lorong bertoreh
sejarah panjang sebuah peradaban.
Atau semilir senja di Durbar Square Tibet?
Akan terasakan betapa tipisnya udara tibet,
hingga mungkin akan menyesakkan napas. Tapi akan kupastikan membawa tabung
oksigen, sehingga bisa leluasa menikmati gerak gemulai bendera-bendera do’a
yang melambai pada segala tiang pancang. Bendera aneka warna itu membawa do’a
pada setiap helainya. Bila mau, kalian bisa menalikan do’a-do’a pada helai
bendera itu. Apakah kiranya yang kalian bawa dalam do’amu? Adakah aku ada dalam
salah satu do’amu?
Begitu banyak senja berlangit jingga yang
bisa diberikan untuk kalian. Senja manakah yang menjadi pilihan?
Timpang dan Gugur
Sunday, October 20, 2013 |
Labels:
| Poetry |
Terlalu sulit
untuk melukiskan rentetan waktu tentangmu
Yang kemudian hanya
bisa terangkai indah dalam diam dan semu
Konsonan kata ini mengalir
begitu saja tanpa permisi
Sungguh seperti aliran
hasil termoregulasi basi
Bodoh, seharusnya
kuperintahkan akson dan dendritku untuk bekerja sama
Sehingga sinyal
ini bisa terenyahkan dan musnah
Jika syarafku
sangatlah baik, mungkin ku bisa ciptakan remote kontrol pendelete rasa
Rasa yang kujuluki
sebagai “parasit” zona kisah
Tak masalah jika
masa depanmu adalah dia
Selama tuhan
menjagamu, aku bisa..
Karena tulang
rusuk tak selamanya bersatu
Maka, biarkan jadi
melayang patuh
Ku tak tahu mengapa
diciptakan mirabilis jalapa, si bunga pukul empat
serta mengapa daun momiji berwarna merah
Mungkin untuk jadi kiasan klasik yang mempat namun merekah
Kan kujadikan ini sebagai
kasak kusuk kekoyakkan
Sebagai tulisan terakhir
yang timpang, sungguh timpang! dan gugur..
K I M I
Arashi ga yukute
wo saegittemo
itsudemo baku ga kimi wo mamotte irukoto wo omoidashite.
Bokura futari wa magarikunetta michi wo ayundeiku.
Kimi ga kanjiteru fuan mo kimi to irukoto de boku no itibu dayo.
Subete no urei wo kono boku no kata ni azuketeokure.
-Cause Home is in your EYES-
Wednesday, October 09, 2013 |
Labels:
| Poetry |
My heart beats a little bit slower
These nights are a little bit colder, now
that you’re gone
My skies seem a little bit darker
Sweet dreams seem a little bit
harder… I hate when you’re gone.
Everyday time is passing
Growing tired of all this traffic
Take me away to where you are.
I travel a thousand miles
Just so I can see you smile
Feels so far away when you cry
Cause home is in your eyes
Your heart beats a little bit faster
There’s tears where there use to be
laughter…
Now that I’m gone…
You talk just a little bit softer
Things take a little bit longer.
You hate that I’m gone.
I’d find a way where we would never ever
be apart
Right from the start...
-Serba Serbi Berpenalaran-
Wednesday, October 02, 2013 |
Labels:
| Story |
Biarkan
saya berkisah akan serba-serbi berpenalaran. Kisah yang sekarang masih seumur
jagung, tapi berharap akan berumur seperti beringin, awett. Kisah singkat ini
memuat akan kecintaan saya akan Penalaran, kehangatan rumah nalar, serta rasa
yang bersilangan.
Kisah ini terawali ketika maba tahun 2011 mendaftar
organisasi kampus, organisasi itu bernama LPM Penalaran UNM yang santer
terdengar sebagai organisasi yang bergerak dibidang penelitian. Tahap demi
tahap penyeleksianpun telah terlewati muluss walaupun persiapan dan kemapuan
nihil, namun pendaftaran yang pada awalnya hanya iseng belaka itu, ternyata
berbuah manis. Nama saya tercatat di urutan ke-17 peserta yang lolos seleksi
waktu ituu. Senang rasanya.. namun, ternyata masih ada lagi tahap selanjutnya
yang harus ditempuh, hiks. Sapa takut? Alhamdulillah, i stiil stay ‘till the end step. NRA pun berhasil terkantongi tepat
pada malam pengukuhan saat itu.
Berstatus
anggota penalaran ternyata tidak cukup, ranah pengurus harus digaet untuk
membuktikan kemampuan dan tanggungjawab yang lebih. Yah, dan akhirnya saya
terdaftar sebagai salah satu pengurus bidang LITBANG, senangg lagi. Namun,
selalu ada ada batu penyandung yang siap sedia menjadi penghalang untuk mejadii
penguruss teladan .hihiihi. yang jelas semangat harus tetap ada untuk belajar, berkarya, dan jangan pernah
tumbang akan seribu kegagalan yang menghampirii.
Hangat
rumah nalar selalu memberikan semerbak rasaa.. rasa akan bangunan klasiik itu
sendiri, serta orang-orang didalamnya. Disaat seperti sekarang ini, halaman
rumah nalar diguyurr absisi dedaunan kering, dan anggap saja sedang berada
dimusim semi atau musim gugur yang sama di jepang, xixiixii :D. Di rumah nalar
juga tersisip rasaa, rasa yang muncul ketika pertama kali berjumpa sampai
sekarang. Namun, rasa itu bersilangan dan akan hilang atau terkubur seperti
dedaunan kering yang berguguran dimusim semii. Persahabatanpun saya temukan
disini, teman-teman yang warna warni sifatnya, ada yang asli kocak, pendiam
(termasuk saya, ekhm), dan ada juga yang sedikit lainn perawakannya. Canda,
tawa, kecewa, malu, sedih, telah tercicipi secara apik di benteng kekaisaran Penalaran
=> Rumah nalar.
Sebenarnya
saya tak ingin menjadi parasit obligat seperti virus, yang tak tahu malu hidup
dalam sel inangnya. Tapi tetap saja belum ada yang bisa saya perbuat atau
persembahkan untuk penalaran terkasihh. Namun, biarkan segala memorii akan
kenangan yang telah berevolusi ini tetap kokoh bersanding di lobus oksipetalis
otakku. Semoga degup jantung dan helaan nafas selalu tetap tercurah dari yang
kuasa, itu pertanda ada kesempatan untuk menceritakan kisah ini kelak kepada
siapapun yang saya temui. Dan akhirnya kisah-kisah manis akan selalu menjadi
yang pertama dalam DPM ku (daftar penungguan moment), insya allah..
If i could write another
ending, this story will become sweetest moment.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Blogger templates
Blogger news
Powered by Blogger.











